POLIHIDROAMNION

POLIHIDROAMNION

        Konsep Teoritis Polihidramnion(Hidramnion)
        Menurut Rustam Muchtar (1998) penjelasan mengenai hidramnion adalah sebagai berikut

        1. Definisi

Hidramnion merupakan keadaan dimana jumlah air ketuban lebih banyak dari normal atau lebih dari dua liter.dimana normal air ketuban itu adalah 500-1500 ml.

        2.Tanda dan Gejala

         TANDA :

  • Ukuran uterus lebih besar dibanding yang seharusnya
  • Identifikasi janin dan bagian janin melalui pemeriksaan palpasi sulit dilakukan
  • DJJ sulit terdengar
  • Balotemen janin jelas

        GEJALA :

  • Sesak nafas dan rasa tak nyaman di perut karena tekanan pada diafragma
  • Gangguan pencernaan karena konstipasi maupun obstipasi
  • Edema karena tekanan pada pembuluh darah vena karena pembesaran dari uterus.
  • Varises dan hemoroid
  • (Nyeri abdomen)

Bila polihidramnion terjadi antara minggu ke 24 – 30 maka keadaan ini sering berlangsung secara akut dengan gejala nyeri abdomen akut dan rasa seperti “meledak” serta rasa mual

Kulit abdomen mengkilat dan edematous disertai striae yang masih baru Polihidramnion akut atau kronik dapat menyebabkan abortus atau persalinan preterm.

          3.  Perjalanan penyakit

                  1. Hidramnion kronis

Banyak dijumpai pertambahan air ketuban bertambah secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu atau bulan, dan biasanya terjadi pada kehamilan yang lanjut

                  2. Hidramnion akut

Terjadi penambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa hari saja. Biasanya terdapat pada kehamilan yang agak muda, bulan ke-5 dan ke-6. komposisi dari air ketuban pada hidramnion, menurut penyelidikan, serupa saja dengan air ketuban yang normal.

          4. Frekuensi

Yang sering kita jumpai adalah hidramnion yang ringan, dengan jumlah cairan 2- 3 liter. Yang berat dan akut jarang. Frekuensi hidramnion kronis adalah 0,5-1%. Insiden dari kongenital anomali lebih sering kita dapati pada hidramnion yaitu sebesar 17,7-29%. Hidramnion sering terjadi bersamaan dengan :

a.       Gemelli atau hamil ganda (12,5%),

b.      Hidrops foetalis

c.       Diabetes melitus

d.      Toksemia gravidarum

e.       Cacat janin terutama pada anencephalus dan atresia esophagei

f.       Eritroblastosis foetalis

 

          5.Etiologi

Mekanisme terjadi hidramnion hanya sedikit yang kita ketahui. Secara teori hidramnion terjadi karena :

  1. Produksi air ketuban bertambah;

yang diduga menghasilkan air ketuban adalah epitel amnion, tetapi air ketuban juga dapat bertambah karena cairan lain masuk kedalam ruangan amnion, misalnya air kencing anak atau cairan otak pada anencephalus.

  1. Pengaliran air ketuban terganggu;

Air ketuban yang telah dibuat dialirkan dan diganti dengan yang baru. Salah satu jalan pengaliran adalah ditelan oleh janin, diabsorbsi oleh usus dan dialirkan ke placenta akhirnya masuk kedalam peredaran darah ibu. Jalan ini kurang terbuka kalau anak tidak menelan seperti pada atresia esophogei, anencephalus atau tumor-tumor placenta. Pada anencephalus dan spina bifida diduga bahwa hidramnion terjadi karena transudasi cairan dari selaput otak dan selaput sum-sum tulang belakang. Selain itu, anak anencephal tidak menelan dan pertukaran air terganggu karena pusatnya kurang sempurna hingga anak ini kencing berlebihan.

Pada atresia oesophagei hidramnion terjadi karena anak tidak menelan. Pada gemelli mungkin disebabkan karena salah satu janin pada kehamilan satu telur jantungnya lebih kuat dan oleh karena itu juga menghasilkan banyak air kencing. Mungkin juga karena luasnya amnion lebih besar pada kehamilan kembar. Pada hidramnion sering ditemukan placenta besar.

Menurut dr. Hendra Gunawan Wijanarko, Sp.OG dari RSIA Hermina Pasteur, Bandung (2007) menjelaskan bahwa hidromnion terjadi karena:

a.       Prduksi air jernih berlebih

b.      Ada kelainan pada janin yang menyebabkan cairan ketuban menumpuk, yaitu hidrocefalus, atresia saluran cerna, kelainan ginjal dan saluran kencing kongenital

c.       Ada sumbatan / penyempitan pada janin sehingga dia tidak bisa menelan air ketuban. Alhasil volume ketuban meningkat drastis

d.      Kehamilan kembar, karena adanya dua janin yang menghasilkan air seni

e.       Ada proses infeksi

f.       Ada hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang menyangkut sistem syaraf pusat sehingga fungsi gerakan menelan mengalami kelumpuhan

g.      Ibu hamil mengalami diabetes yang tidak terkontrol

h.      Ketidak cocokan / inkompatibilitas rhesus

Polihidramnion sering terkait dengan kelainan janin :

  • Anensepali
  • Spina bifida
  • Atresia oesophaguis
  • Omphalocele
  • Hipoplasia pulmonal
  • Hidrop fetalis
  • Kembar monosigotik
  • (hemangioma)

Polihidramnion sering berkaitan dengan kelainan ibu:

  • Diabetes Melitus
  • Penyakit jantung
  • Preeklampsia

Perkembangan polihidramnion berlangsung secara gradual dan umumnya terjadi pada trimesteri III

 

PENATALAKSANAAN :

Dilakukan pemeriksaan ultrasonografi secara teliti antara lain untuk melihat penyebab dari keadaan tersebut. Dilakukan pemeriksaan OGTT untuk menyingkirkan kemungkinan diabetes gestasional. Bila etiologi tidak jelas, pemberian indomethacin dapat memberi manfaat bagi 50% kasus Pemeriksaan USG janin dilihat secara seksama untuk melihat adanya kelainan ginjal janin

Meskipun sangat jarang, kehamilan monokorionik yang mengalami komplikasi sindroma twin tranfusin , terjadi polihidramnion pada kantung resipien dan harus dilakukan amniosentesis berulang untuk mempertahankan kehamilan.

          6.Patogenesis

Pada awal kehamilan, rongga amnion terisi oleh cairan yang komposisinya sangat mirip dengan cairan ektrasel. Selama paruh pertama kehamilan, pemindahan air dan molekul kecil lainnya berlangsung tidak saja melalui amnion, tapi juga menembus kulit janin. Selama trimester kedua, janin mulai berkemih, menelan dan menghirup cairan amnion. Hampir pasti proses ini secara bermakna mengatur pengendalian volume cairan amnion.karena dalam keadaan normal janin menelan cairan amnion, diperkirakan bahwamekanisme ini adalah salah satu cara pengaturan volume cairan amnion. Teori ini dibenarkandengan kenyataan bahwa hidramnion hampir selalu terjadi bila janin tidak dapat menelan, seperti pada kasus atresia esofagus. Proses menelan ini jelas bukan satu-satunya mekanisme untuk mencegah hidramnion. Pritchard dan Abramovich mengukur hal ini dan menemukan bahwa pada beberapa kasus hidramnion berat, janin menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup banyak.Pada kasus anesefalus dan spina bifida, faktor etiologinya mungkin adalah meningkatnya transudasi cairan dari meningen yang terpajan ke dalam rongga amnion. Penjelasan lain yang mungkin pasca anensefalus, apabila tidak terjadi gangguan menelan, adalah peningkatan berkemih akibat stimulasi pusat-pusat di serebrospinal yang tidak terlindung atau berkurangnya efek antidiuretik akibat gangguan sekresi arginin vasopressin. Hal sebaliknya telah jelas dibuktikan bahwa kelainan janin yang menyebabkan anuria hampir selalu menyebabkanoligohidramnion.Pada hidramnion yang terjadi pada kehamilan kembar monozigot, diajukan hipotesis bahwa salah satu janin merampas sebagian besar sirkulasi bersama dan mengalami hipertropi jantung, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan luaran urin pada masa neonates dini,yang mengisyaratkan bahwa hidramnion disebabkan oleh meningkatnya produksi urin janin.

Hidramnion yang sering terjadi pada diabetes ibu selama trimester ketiga masih belumdapat diterangkan. Salah satu penjelasannya adalah bahwa hiperglikemia janin yangmenimbulkan diuresis osmotik. Bar Hava dan kawan kawan (1994) membuktikan bahwa volumeair ketuban trimester ketiga pada 399 diabetes gestasional mencerminkan status glikemik terakhir. Yasuhi dan kawan kawan (1994) melaporkan peningkatan produksi urin janin padawanita diabetik yang puasa dibandingkan dengan kontrol nondiabetik. Yang menarik, produksiurin janin meningkat pada wanita nondiabetik setelah makan, tetapi hal ini tidak dijumpai padawanita diabetes.

          7. Predisposisi

Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya hidromnion, antara lain:

1.      Penyakit jantung

2.      Nefritis

3.      Edema umum (anasarka)

4.      Anomali kongenintal (pada anak), seperti anensefali, spina bifida, atresia atau striktur esofagus, hidrosefalus, dan struma bloking oesaphagus. Dalam hal ini terjadi karena :

a.       Tidak ada stimulasi dari anak dan spina

b.      Exscressive urinary secration

c.       Tidak berfungsinya pusat menelan dan haus

d.      Transudasi pusat langsung dari cairan meningeal keamnion

5.      Simpul tali pusat

6.      Diabetes melitus

7.      Gemelli uniovulair

8.      Mal nutrisi

9.      Penyakit kelenjar hipofisis

10.  Pada hidromnion biasanya placenta lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa karena itu transudasi menjasdi lebih banyak dan timbul hidromnion

          8. Diagnosis

1)      Anamnesis

a.       Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa

b.      Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak

c.       Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat maka terdapat keluhan-keluhan yang disebabkan karena tekanan pada organ terutama pada diafragma, seperti sesak (dispnoe), nyeri ulu hati, dan dianosis

d.      Nyeri perut karena tegangnya uterus, mual dan muntah

e.       Edema pada tungkai, vulva, dinding perut

f.       Pada proses akut dan perut besar sekali, bisa syok, bereringat dingin dan sesak

2)      Inspeksi

a.       Kelihatan perut sangat buncit dan tegang, kulit perut berkilat, retak-retak, kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar

b.      Jika akut si ibu terlihat sesak (dispnoe) dan sionasis, serta terlihat payah membawa kandungannya

3)      Palpasi

a.       Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada dinding perut valva dan tungkai

b.      Fundus uteri lebih tinggi dari tuanya kehamilan sesungguhnya

c.       Bagian-bagian janin sukar dikenali karena banyaknya cairan

d.      Kalau pada letak kepala, kepala janin bisa diraba, maka ballotement jelas sekali

e.       Karena bebasnya janin bergerak dan kepala tidak terfiksir, maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin

4)      Auskultasi

Denyut jantung janin tidak terdengar atau jika terdengar sangat halus sekali

5)      Rontgen foto abdomen

a.       Nampak bayangan terselubung kabur karena banyaknya cairan, kadang-kadang banyak janin tidak jelas

b.      Foto rontgen pada hidromnion berguna untuk diagnosa dan untuk menentukan etiologi, seperti anomali kongenital (anensefali atau gemelli)

6)      Pemeriksaan dalam

Selaput ketuban teraba dan menonjol walaupun diluar his

7)      Pemeriksaan penunjang

  • Foto rontgen (bahaya radiasi)
  • Ultrasonografi
    • Banyak ahli mendefinisikan hidramnion bila index cairan amnion (ICA) melebihi 24-25 cm pada pemeriksaan USG.
    • Dari pemeriksaan USG, hidramnion terbagi menjadi :

Mild hydramnion (hidramnion ringan), bila kantung amnion mencapai 8-11 cm dalam dimensi vertikal. Insiden sebesar 80% dari semua kasus yang terjadi.

Moderate hydramnion (hidramnion sedang), bila kantung amnion mencapai 12-15 cm dalamnya. Insiden sebesar 15%.

Severe hydramnion (hidramnion berat), bila janin ditemukan berenang dengan bebas dalam kantung amnion yang mencapai 16 cm atau lebih besar. Insiden sebesar 5%.

Weeks gestation Fetus (gr) Placenta (gr) Amnionic fluid (ml) Fluid (%)
16 100 100 200 50
28 1000 200 1000 45
36 2500 400 900 24
40 3300 500 800 17

From Queenan (1991)

Diagnosa banding

  • Gemelli (kembar)
  • Asites (pengumpulan cairan serosa dalam rongga perut)
  • Kista ovarium

Kehamilan dengan tumor

Diagnosis :

1.      Anamnesis

2.      Perut terlihat sangat buncit dan tegang, kulit perut mengkilat, retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar.

3.      Ibu terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah karena kehamilannya

4.      Edema pada kedua tungkai, vulva dan abdomen. Hal ini terjadi karena kompresi terhadap sebagian besar sistem pembuluh darah balik (vena) akibat uterus yang terlalu besar

5.      Fundus uteri lebih tinggi dari usia kehamilan sesungguhnya.

6.      Bagian-bagian janin sukar dikenali.

7.      Ultrasonografi

Alasan merujuk :

Jika dijumpai diagnosis polihidramnion, maka bidan harus segera membuat rencana asuhan atau perawatan untuk segera diimplementasikan, tindakan tersebut adalah merujuk klien. Alasan dilakukannya rujukan adalah untuk mengantisipasi adanya masalah-masalah terhadap janin dan juga ibunya.

Masalah potensial yang akan dialami adalah:

Pada Janin :

1.      Kelainan kongenital

2.      Prematuritas

3.      Letak lintang atau tali pusat menumbung

4.      Eritroblastosis

5.      Diabetes Melitus

6.      Solusio plasenta, kalau ketuban pecah tiba-tiba

Pada Ibu :

1.      Solusio plasenta

2.      Atonia uteri

3.      Perdarahan postpartum

4.      Retensio palsenta

5.      Syok

6.      Kesalahan-kesalahan letak janin menyebabkan partus jadi lama dan sukar

Alur Rujukan :

Rujukan berasal dari bidan ke Rumah sakit yang mempunyai kapasitas memadai.

Tindakan Selama Rujukan :

1.      Memberikan pengertian kepada ibu bahwa kehamilan ini harus dirujuk ke Rumah Sakit karena bidan tidak mempunyai kapasitas untuk menganganinya.

2.      Apabila ibu tidak bersedia dirujuk maka akan terjadi kemungkinan yang tidak diharapkan baik bagi ibu maupun janin. Seperti : bayi lahir premature, tali pusat menumbung, syok, dll.

3.      Mendampingi ibu dan keluarga selama di perjalanan.

4.      Memberikan semangat kepada ibu bahwa kehamilan ini akan tertangani dengan baik oleh tenaga kesehatan di tempat rujukan. Ibu agar tetap berdoa dan berusaha berpikir positif.

          9. Diagnosa banding

Bila seorang ibu datang dengan perut yang lebih besar dari kehamilan yang seharusnya, kemunginan:

1)      Hidramnion

2)      Gemelli

3)      Asites

4)      Kista ovarri

5)      Kehamilan beserta tumor

6)      kehamilan kembar

7)      mola hidatidosa

8)      kandung kemih yang penuh

          10. Prognosis

     Pada janin, prognosanya agak buruk (mortalitas kurang lebih 50%) terutama karena :

    1. Kongenital anomali
    2. Prematuritas
    3. Komplikasi karena kesalahan letak anak, yaitu pada letak lintang atau tali pusat menumbung
    4. Eritroblastosis
    5. Diabetes melitus
    6. Solutio placenta jika ketuban pecah tiba-tiba

     Pada ibu:

     1. Solutio placenta

     2. Atonia uteri

     3.Perdarahan post partum

     4. Retentio placenta

     5. Syok

     6.Kesalahan-kesalahan letak janin menyebabkan partus jadi lama dan sukar

          11.  Penatalaksanaan

Terapi hidromnion dibagi dalam tiga fase:

1.Waktu hamil (di BKIA)

a.       Hidromnion ringan jarang diberi terapi klinis, cukup diobservasi dan berikan terapi simptomatis

b.      Pada hidromnion yang berat dengan keluhan-keluhan, harus dirawat dirumah sakit untuk istirahat sempurna. Berikan diet rendah garam. Obat-obatan yang dipakai adalah sedativa dan obat duresisi. Bila sesak hebat sekali disertai sianosis dan perut tengah, lakukan pungsi abdominal pada bawah umbilikus. Dalam satu hari dikeluarkan 500cc perjam sampai keluhan berkurang. Jika cairan dikeluarkan dikhawatirkan terjadi his dan solutio placenta, apalagi bila anak belum viable. Komplikasi pungsi dapat berupa :

1)      Timbul his

2)    Trauma pada janin

3)    Terkenanya rongga-rongga dalam perut oleh tusukan

4)    Infeksi serta syok

Bila sewaktu melakukan aspirasi keluar darah, umpamanya janin mengenai placenta, maka pungsi harus dihentikan.

2.Waktu partus

a.       Bila tidak ada hal-hal yang mendesak, maka sikap kita menunggu

b.      Bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis maka lakukan pungsi transvaginal melalui serviks bila sudah ada pembukaan. Dengan memakai jarum pungsi tusuklah ketuban pada beberapa tempat, lalu air ketuban akan keluar pelan-pelan

c.       Bila sewaktu pemeriksaan dalam, ketuban tiba-tiba pecah, maka untuk menghalangi air ketuban mengalir keluar dengan deras, masukan tinju kedalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan. Maksud semua ini adalah supaya tidak terjadi solutio placenta, syok karena tiba-tiba perut menjadi kosong atau perdarahan post partum karena atonia uteri.

3.Postpartum

a.       Harus hati-hati akan terjadinya perdarahan post partum, jadi sebaiknya lakukan pemeriksaan golongan dan transfusi darah serta sediakan obat uterotonika

b.      Untuk berjaga-jaga pasanglah infus untuk pertolongan perdarahan post partum

c.       Jika perdarahan banyak, dan keadaan ibu setelah partus lemah, maka untuk menghindari infeksi berikan antibiotika yang cukup. atau dengan metode terbaru yaitu dengan :

v  Amniosentesis

Tujuannya adalah untuk meredakan penderitaan ibu, dan cukup efektif untuk tujuan ini. Namun amniosentesis kadang memicu persalinan walaupun hanya sebagian kecil cairan yangdikeluarkan. Elliot dan kawan-kawan (1994) melaporkan hasil-hasil dari 200 amniosentesis pada94 wanita dengan hidramnion. Kausa umum adalah transfusi antar kembar (38 %), idiopatik (26%), anomali janin (17 %) dan diabetes (12%).

Cara melakukan amniosentesis adalah dengan memasukkan sebuah kateter plastik yangmenutupi secara erat sebuah jarum ukuran 18 melalui dinding abdomen yang telah dianestesilokal ke dalam kantung amnion. Jarum ditarik dan set infus intravena disambungkan ke kateter.Ujung selang yang berlawanan diturunkan ke dalam sebuah silinder berskala yang diletakkansetinggi lantai dan kecepatan aliran air ketuban dikendalikan dengan klem putar sehinggadikeluarkan sekitar 500 ml/jam. Setelah sekitar 1500-2000 ml dikeluarkan, ukuran uterus biasanya cukup berkurang sehingga kateter dapat dikeluarkan. Dengan menggunakan teknik aseptik ketat, tindakan ini dapat diulang sesuai kebutuhan agar wanita yang bersangkutan merasanyaman. Elliott dan kawan-kawan (1994) menggunakan penghisap di dinding dan mengeluarkan1000 ml dalam 20 menit (50 ml/menit).

v  Terapi Indomestasin

Dalam ulasan terhadap beberapa penelitian, Kramer dan kawan-kawan (1994) menyimpulkan bahwa indometasin mengganggu produksi cairan paru atau meningkatkan penyerapannya,mengurangi produksi urin janin, dan meningkatkan perpindahan cairan melalui selaput janin.Dosis yang digunakan oleh sebagian besar peneliti berkisar dari 1,5 – 3 mg/kg/hari. Cabrol dankawan-kawan (1987) mengobati 8 wanita dengan hidramnion idiopatik sejak usia gestasi 24-35minggu dengan indometasin selama 2-11 minggu  

Hidramnion, yang didefinisikan sebagai minimal 1 kantung cairan ukuran 8 cm, membaik  pada semua kasus. Tidak terjadi efek samping serius dan hasil semua kasus baik. Kirshon dankawan-kawan (1990) mengobati 8 wanita (3 kembar) dengan hidramnion dari minggu ke 21sampai ke 35. Pada seluruh wanita ini, dilakukan 2 amniosintesis terapeutik sebelum indometasindiberikan. Dari 11 janin, 3 kasus lahir mati berkaitan dengan sindrom transfusi antar kembar dansatu neonates meninggal pada usia 3 bulan, 7 bayi sisanya normal.

 

Mamopoulus dan kawan-kawan (1990) mengobati 15 wanita, 11 mengidap diabetes yangmengalami hidramnion pada gestasi 25 – 32 minggu. Mereka diberi indometasin dan volumecairan amnion pada semua wanita ini berkurang, dari rata-rata 10,7 cm pada gestasi 27 minggumenjadi 5,9 cm setelah terapi. Hasil akhir pada seluruh neonatus baik. Kekhawatiran utama pada penggunaan indometasin adalah kemungkinan penutupan duktusarteriosus janin. Moise dan kawan-kawan (1988) melaporkan bahwa 50% dari 14 janin yangibunya mendapat indometasin mengalami konstriksi duktus seperti dideteksi oleh ultrasonografiDoppler. Studi – studi yang dijelaskan sebelumnya tidak menemukan adanya konstriksi menetapdan penyulit ini juga belum pernah dijelaskan dalam studi-studi yang memberikan indometasinuntuk tokolitik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham Gary. Obstetri Williams. Ed 18. Jakarta. EGC.

Manuaba Gde 1. B., Prof. dr. Penuntun Diskusi Obstetric dan Ginekologi untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakartan. EGC.

Manuaba Gde 1. B., Prof. dr. 2007. Pengantar Kuliah Obstetric. Jakartan. EGC.

Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.  YBP-SP : Jakarta.

Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan.  YBP-SP : Jakarta.

FK Unpad, 1983 Fisiole, FK Unpad : Bandung

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s